Buku Menkes Fadilah Bikin Gerah AS-WHO

February 27, 2008 at 9:46 am 18 comments

Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari (59) bikin gerah World Health Organization (WHO) dan Pemerintah Amerika Serikat (AS). Fadilah berhasil menguak konspirasi AS dan badan kesehatan dunia itu dalam mengembangkan senjata biologi dari virus flu burung, Avian influenza (H5N1).

Setelah virus itu menyebar dan menghantui dunia, perusahaan-perusahaan dari negara maju memproduksi vaksin lalu dijual ke pasaran dengan harga mahal di negara berkembang, termasuk Indonesia.

Fadilah menuangkannya dalam bukunya berjudul Saatnya Dunia Berubah! Tangan Tuhan di Balik Virus Flu Burung. Selain dalam edisi Bahasa Indonesia, Siti juga meluncurkan buku yang sama dalam versi Bahasa Inggris dengan judul It’s Time for the World to Change. Konspirasi tersebut, kata Fadilah, dilakuakn negara adikuasa dengan cara mencari kesempatan dalam kesempitan pada penyebaran virus flu burung.

“Saya mengira mereka mencari keuntungan dari penyebaran flu burung dengan menjual vaksin ke negara kita,” ujar Fadilah kepada Persda Network di Jakarta, Kamis (21/2).

Situs berita Australia, The Age, mengutip buku Fadilah dengan mengatakan, Pemerintah AS dan WHO berkonpirasi mengembangkan senjata biologi dari penyebaran virus avian H5N1 atau flu burung dengan memproduksi senjata biologi. Karena itu pula, bukunya dalam versi bahasa Inggris menuai protes dari petinggi WHO.

“Kegerahan itu saya tidak tanggapi. Kalau mereka gerah, monggo mawon. Betul apa nggak, mari kita buktikan. Kita bukan saja dibikin gerah, tetapi juga kelaparan dan kemiskinan. Negara-negara maju menidas kita, lewat WTO, lewat Freeport, dan lain-lain. Coba kalau tidak ada kita sudah kaya,” ujarnya.

Fadilah mengatakan, edisi perdana bukunya dicetak masing-masing 1.000 eksemplar untuk cetakan bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris. Total sebanyak 2.000 buku.

“Saat ini banyak yang meminta jadi dalam waktu dekat saya akan mencetak cetakan kedua dalam jumlah besar. Kalau cetakan pertama dicetak penerbitan kecil, tapi untuk rencana ini, saya sedang mencari bicarakan dengan penerbitan besar,” katanya.

Selain mencetak ulang bukunya, perempuan kelahiran Solo, 6 November 1950, mengatakan telah menyiapkan buku jilid kedua.

“Saya sedang menulis jilid kedua. Di dalam buku itu akan saya beberkan semua bagaimana pengalaman saya. Bagaimana saya mengirimkan 58 virus, tetapi saya dikirimkan virus yang sudah berubah dalam bentuk kelontongan. Virus yang saya kirimkan dari Indonesia diubah-ubah Pemerintahan George Bush,” ujar menteri kesehatan pertama Indonesia dari kalangan perempuan ini.

Siti enggan berkomentar tentang permintaan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang memintanya menarik buku dari peredaran.

“Bukunya sudah habis. Yang versi bahasa Indonesia, sebagian, sekitar 500 buku saya bagi-bagikan gratis, sebagian lagi dijual ditoko buku. Yang bahasa Inggris dijual,” katanya sembari mengatakan, tidak mungkin lagi menarik buku dari peredaran. Pemerintah AS dikabarkan menjanjikan imbalan peralatan militer berupa senjata berat atau tank jika Pemerintah RI bersedia menarik buku setebal 182 halaman itu.

Apapun komentar pemerintah AS dan WHO, Fadilah sudah membikin sejarah dunia. Gara-gara protesnya terhadap perlakuan diskriminatif soal flu burung, AS dan WHO sampai-sampai mengubah kebijakan fundamentalnya yang sudah dipakai selama 50 tahun. Perlawanan Fadilah dimulai sejak korban tewas flu burung mulai terjadi di Indonesia pada 2005.

Majalah The Economist London menempatkan Fadilah sebagai tokoh pendobrak yang memulai revolusi dalam menyelamatkan dunia dari dampak flu burung.

“Menteri Kesehatan Indonesia itu telah memilih senjata yang terbukti lebih berguna daripada vaksin terbaik dunia saat ini dalam menanggulangi ancaman virus flu burung, yaitu transparansi,” tulis The Economist.

The Economist, seperti ditulis Asro Kamal Rokan di Republika, edisi pekan lalu, mengurai, Fadilah mulai curiga saat Indonesia juga terkena endemik flu burung 2005 silam. Ia kelabakan. Obat tamiflu harus ada. Namun aneh, obat tersebut justru diborong negara-negara kaya yang tak terkena kasus flu burung.

Di tengah upayanya mencari obat flu burung, dengan alasan penentuan diagnosis, WHO melalui WHO Collaborating Center (WHO CC) di Hongkong memerintahkannya untuk menyerahkan sampel spesimen.

Mulanya, perintah itu diikuti Fadilah. Namun, ia juga meminta laboratorium litbangkes melakukan penelitian. Hasilnya ternyata sama. Tapi, mengapa WHO CC meminta sampel dikirim ke Hongkong?

Fadilah merasa ada suatu yang aneh. Ia terbayang korban flu burung di Vietnam. Sampel virus orang Vietnam yang telah meninggal itu diambil dan dikirim ke WHO CC untuk dilakukan risk assessment, diagnosis, dan kemudian dibuat bibit virus.
Dari bibit virus inilah dibuat vaksin. Dari sinilah, ia menemukan fakta, pembuat vaksin itu adalah perusahaan-perusahaan besar dari negara maju, negara kaya, yang tak terkena flu burung.

Mereka mengambilnya dari Vietnam, negara korban, kemudian menjualnya ke seluruh dunia tanpa izin. Tanpa kompensasi. Fadilah marah. Ia merasa kedaulatan, harga diri, hak, dan martabat negara-negara tak mampu telah dipermainkan atas dalih Global Influenza Surveilance Network (GISN) WHO.

Badan ini sangat berkuasa dan telah menjalani praktik selama 50 tahun. Mereka telah memerintahkan lebih dari 110 negara untuk mengirim spesimen virus flu ke GISN tanpa bisa menolak. Virus itu menjadi milik mereka, dan mereka berhak memprosesnya menjadi vaksin.

Di saat keraguan atas WHO, Fadilah kembali menemukan fakta bahwa para ilmuwan tidak dapat mengakses data sequencing DNA H5N1 yang disimpan WHO CC. Data itu, uniknya, disimpan di Los Alamos National Laboratoty di New Mexico, AS. Di sini, dari 15 grup peneliti hanya ada empat orang dari WHO, selebihnya tak diketahui.

Los Alamos ternyata berada di bawah Kementerian Energi AS. Di lab inilah duhulu dirancang bom atom Hiroshima. Lalu untuk apa data itu, untuk vaksin atau senjata kimia? Fadilah tak membiarkan situasi ini. Ia minta WHO membuka data itu. Data DNA virus H5N1 harus dibuka, tidak boleh hanya dikuasai kelompok tertentu.

Ia berusaha keras. Dan, berhasil. Pada 8 Agustus 2006, WHO mengirim data itu. Ilmuwan dunia yang selama ini gagal mendobrak ketertutupan Los Alamos, memujinya.

Majalah The Economist menyebut peristiwa ini sebagai revolusi bagi transparansi. Tidak berhenti di situ. Siti Fadilah terus mengejar WHO CC agar mengembalikan 58 virus asal Indonesia, yang konon telah ditempatkan di Bio Health Security, lembaga penelitian senjata biologi Pentagon.

Ini jelas tak mudah. Tapi, ia terus berjuang hingga tercipta pertukaran virus yang adil, transparan, dan setara. Ia juga terus melawan dengan cara tidak lagi mau mengirim spesimen virus yang diminta WHO, selama mekanisme itu mengikuti GISN, yang imperialistik dan membahayakan dunia.

Dan, perlawanan itu tidak sia-sia. Meski Fadilah dikecam WHO dan dianggap menghambat penelitian, namun pada akhirnya dalam sidang Pertemuan Kesehatan Sedunia di Jenewa Mei 2007, International Government Meeting (IGM) WHO di akhirnya menyetujui segala tuntutan Fadilah, yaitu sharing virus disetujui dan GISN dihapuskan.

source :  tribun-timur.com/view.php?id=65146

Entry filed under: buku, info. Tags: , , , , , , , , .

Kumpulan Link download Pertamina harus belajar banyak dari Shell

18 Comments Add your own

  • 1. indrayana  |  February 28, 2008 at 12:56 pm

    Trus berjuang bu, anda pahlawan kami.

    Reply
  • 2. Papario  |  February 29, 2008 at 9:00 am

    ini dia wanita Indonesia yang hebat sebagai KArtini kedua yang Mendunia…….
    Dicalonkan jadi Presiden wanita kedua saja, mau…?

    Reply
  • 3. fans-suzuki  |  March 1, 2008 at 3:04 pm

    Sukses Selalu Buat Ibu Fadillah, kami sebagai bangsa Indonesia Bangga dan mendukung sepenuhnya atas perjuangan Ibu…

    Reply
  • 4. betty  |  March 2, 2008 at 10:30 am

    Anda pahlawan dunia juga

    Reply
  • 5. ajiwid  |  March 5, 2008 at 4:42 pm

    ada sumber yg lebih meyakinkan? maklum berita di internet suka simpang siur

    Reply
  • 6. idesukses  |  March 6, 2008 at 10:14 am

    @ ajiwid
    lah sumbernya kan dah ditulis dengan jelas. ini loh :
    http://www.tribun-timur.com/view.php?id=65146

    Reply
  • 7. GIGA  |  March 7, 2008 at 5:43 pm

    Maju terus Bu Menteri, hajar terus lintah-lintah WHO-AS itu jangan sampai mereka mengambil hak kita dan menginjak-injak harga diri kita. Saya setuju ide bu menteri untuk bekerja sama peneitian dengan pemerintah IRAN. Bu Menteri memang lebih tegas daripada cowok bahkan yang bergelar Presiden….

    Reply
  • 8. idesukses  |  March 11, 2008 at 11:30 am

    Bu Menteri, kapan Ibu jadi Presiden ya ? hehe…

    Reply
  • 9. arief  |  March 13, 2008 at 6:11 pm

    Ibu, jangan nyerah dari desakan manapun!
    terus berjuang sesuai hati nurani ibu…

    Reply
  • 10. iffan nurhidayat  |  March 16, 2008 at 6:19 pm

    terus berjuang bu…..tapi ingat istiQomah ya bu.
    anda pahlawan indonesia yang gagah berani di balik sifat keibuanmu. semangat!

    Reply
  • 11. Eri Kartiadie  |  March 17, 2008 at 4:52 pm

    ayo Bu Siti Fadilah.. kami rakyat di belakang anda, selalu mendukung langkah2 anda guna menelanjangi pembodohan WHO-AS yang suka menjual penderitaan rakyat ini demi keuntungan pribadi.

    SBY, support bu Siti Fadilah.. jangan jadi lembek karena staf anda begitu kuat !

    Reply
  • 12. roel umami  |  March 28, 2008 at 3:40 pm

    truzz semangat bu,,
    Qta tunggu edisi keduany bu,biarkan amerika n who kebakaran jenggot (eh ga puny jenggot ding),,
    smoga banyak ilmuwan yg meniru ibu,,
    Indonesia bangga punya putri kya ibu,,
    jgn gentar inna Allah ma’aki,,

    Reply
  • 13. Humaeroh di kalsel  |  April 8, 2008 at 11:10 am

    terus berjuang bu….. kami mendukung ibu… terus bongkar konspirasi barat dan jangan pernah trima gitu za. kami mendukung ibu…..

    Reply
  • 14. mD  |  May 2, 2008 at 10:11 am

    semangat bu, saya heran terhadap para pemimpin laki-laki kita. kenapa yang termotivasi untuk bersuara justu seorang ibu.

    Reply
  • 15. TaQ  |  May 10, 2008 at 9:16 pm

    Kami mendukung Ibu terus berjuang, Bu.. Allah bersama Ibu….!!!

    Reply
  • 16. vina UNAIR  |  May 13, 2008 at 9:07 am

    Ibu telah menemukan satu bukti kejahatan negara2 Kapitalis, tapi masih banyak makar-makar yang lain. Tidak hanya di bidang kesehatan tapi di seluruh lini bangsa ini.
    Mari bu, juga teman-teman yang lain, berjuang bersama membongkar makar mereka dan menebarkan kebajikan!!!

    KEJAHATAN PASTI AKAN KALAH DAN KEBENARAN HAKIKILAH YANG MENANG!!!

    Kebenaran Hakiki hanyalah milik Allah, maka ikutilah jalan kebenaran itu meskipun sakit seperti memegang bara api.
    Doa ku menyertai ibu. Smangat……Allahu Akbar

    Reply
  • 17. storpedy  |  May 22, 2008 at 9:17 pm

    Majuuuu………

    Reply
  • 18. ggzelda  |  March 5, 2009 at 9:22 am

    maju terus bu pantang mundur..
    rawe rawe rantas malang malang putung..
    bu fadilah kartini.. teruslah berjuang demi kebenaran..
    doa kami menyertaimu bu..

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


February 2008
M T W T F S S
« Dec   May »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
2526272829  

Recent Posts

Categories

Blog Stats

  • 208,431 hits

Pages


%d bloggers like this: